Rabu, 07 Januari 2009

ARKEOLOGI SEBAGAI KONFIRMASI ALKITAB

Semakin banyak antrian dari mereka yang menganggap catatan alkitab hanyalah sebuah mitor. Hentakan pertentangan terus berlanjut antara mereka yang percaya dan mereka yang mencemooh inspirasi akurasi dari alkitab.
“Yesus menjawab, ''Percayalah! Kalau mereka diam, batu-batu ini akan berteriak.” (Lukas 19:40). Dia menunjukkan apa yang akan terjadi jika murid-muridNya tidak memberikan kesaksian tentangNya
Murid-murid pertama Yesus (para rasul) tidak berkeliling untuk memberikan kesaksian langsung kepada kita, tetapi kita beroleh inspirasi melalui “Perkataan Allah”, yang mereka tuliskan. Disamping itu kita juga memperoleh kesaksian yang cukup signifikan dari “batu-batu” yang benar-benar menjadi saksi bagi kebenaran dan inspirasi dari “Perkataan Allah”. Bukti fisik yang digali oleh peneliti dapat dan memang berbicara kepada kita melalui disiplin arkeologi biblikal.
Archae berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kuno” dan ology, yang berasal dari logika Yunani yang menunjuk pada sains. Dengan demikian arkeologi adalah studi tentang hal-hal yang kuno.

Mengupas Asal-Usul Arkeologi

Flinders Petrie dari Inggris dianggap sebagai seseorang yang meletakkan metodologi arkeologi sebagai salah satu dari cabang sains. Dia dihargai karena proses transformasi arkeologi dari sebuah perburuan harta karun menjadi sebuah disiplin untuk mencari informasi tentang masa lalu. Metode arkeologi mulai diterapkan dengan tepat mulai abad 19 untuk penggalian situs-situs sejarah.

Fakta yang aneh dalam hal ini adalah bahwa orang yang sebenarnya memberikan kontribusi terhadap proses ini bukanlah seorang peneliti melainkan seorang penakluk dari Perancis yaitu Napoleon Bonaparte. Ketika penaklukannya tehradap Eropa dan Timur Tengah, Napoleon tiba di Mesir pada akhir 1700 an untuk membangun Terusan Suez yang secara dramatis mengurangi waktu tempuh pelayaran untuk rute dagang dari Perancis ke India. Di Mesir, sebelum peperangan di perairan dekat piramid Gizeh yang terkenal, dia menyatakan kepada prajuritnya, “Abad keempat puluh memandangmu dari piramid ini.”

Rasa keingintahuan mendorongnya mempelajari budaya Mesir dan mencoba menguraikan tulisan bergambar yang dipandangnya di monumen kuno. Untuk tujuan itu dia membawa serta 175 sarjana Perancis dan penelitia, dan bersama mereka membangun institut di Mesir untuk mempelajari tulisan dan relik kuno di area tersebut.

Penguraian hieroglif Mesir (kata tersebut sebenarnya berarti tulisan kuno atau tulisan pendeta) sebagian besar dapat diatribusikan pada peneliti muda pada saat itu, Jean Francois Champollion. Terjemahan akurat besar-besaran mampu disediakan dalam sebuah penemuan situs batuan basal hitam dalam tahun 1799 oleh tentara Perancis di kota Rosetta. Hingga sekarang penemuan yang dikenal sebagai Batu Rosetta, mengandung inskripsi trilingual dalam hiroglif Mesir, demotic (bentuk penyederhanaan dari hiroglif Mesir) dan Yunani. Dengan batu tersebut sebagai kuncinya, Champollion pada tahun 1822 akhirnya berhasil menguraikan hiroglif kuno.

Penguraian makna hiroglif tersebut membawa penerangan terhadap budaya Firaun, dan kelas pelajar Eropa memperoleh pengetahuan dalam subjek yang mempesona tersebut. Tak lama sesudahnya, banyak arkeologis amatir yang mencoba memperoleh ketenaran dan keberuntungan, menemukan monumen yang mengagumkan dan harta karun lainnya. Museum di seluruh Eropa dan Amerika saling berlomba untuk memenuhi koleksi mereka dengan penemuan-penemuan yang mengagumkan.
Makam Tutankhamen yang berisi harta karun yang ditemukan tahun 1922, adalah satu dari yang paling spektakuler. Banyak pelopor arkeologi yang diharga usahanya dan berhak menjadi bagian dari sejarah.

Penguraian Makna Tulisan Kuno

Di bagian lain wilayah tersebut, tulisan kuno pada monumen atau objek lain menunggu untuk diuraikan maknanya. Guratan-guratan aneh, cap yang menyerupai gambar burung, ditemukan dalam lembaran tanah liat yang dikeraskan. Pada awalnya beberapa ilmuwan mengira hal tersebut lebih merupakan hiasan daripada tulisan. Karena tanda tersebut sepertinya dibuat dengan menggunakan sejenis pisau pahat pada tanah liat lunak, para ahli menamakannya cuneiform atau bentuk surat yang ditulis menggunakan cunei; yang merupakan bahasa latin untuk pahat (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai prasasti).

Kredit untuk penguraian makna prasasti tersebut sebagian besar diberikan kepada agen pemerintahan Inggris, Henry C. Rawlinson, bermarkas di Persia. Dia memulai studi sistematis terhadap prasasti yang ditemukan pada inkripsi Behistun Rock atau yang dikenal sebagai “Prasasti Rosetta Stone”.

Ribuan tahun sebelumnya, Darius Agung, raja Persia, pada tahun 1700 pernah berada di kaki pegunungan batu ini memandang ke arah lembah memahatkan catatan tentang perbuatan luar biasanya. Inskripsi tersebut muncul dalam tiga bentuk naskah: Persia, Elamite, dan Babilonia dalam model tulisan prasasti. Dalam periode lebih dari dua tahun, Rawlinson pergi ke situs tersebut dan melakukan pendakian penuh bahaya; bergantungan di seutas tali sambil secara seksama mengartikan inkripsi tersebut. Hingga tahun 1847, dia berhasil menguraikan makna tulisan prasasti, membuka pemahaman tentang budaya Babilonia dan sejarah dunia. Untuk upayanya ini, Rawlinson menerima gelar kebangsaan dari Ratu Victoria pada tahun 1855.

Penggalian Kota yang Hilang

Seorang lagi berkebangsaan Britania, Austen Henry Layard, menorehkan inspirasi dari penemuan dan kemasyuran yang diperoleh seperti Champollion dan Rawlinson. Layar mulai menggali di Iraq, tanah air kekaisaran Assyria dan Babilon ribuan tahun yang lalu. Dia melakukan penggalian untuk menemukan kota besar yang disebutkan dalam alkitab termasuk Nineveh yang menjadi ibukota Assyria dan Calah sebagai salah satu kota terbesarnya. Banyak artifak Assyria ditemukan termasuk sapi jantan bersayap yang terkenal dan artifak penting Assyria dan Babilonia lainnya; yang kemudian dibawa ke British Museum. Dia juga memperoleh gelar bangsawan dari Ratu Victoria.

Tidak hanya arkeolog Perancis dan Inggris, arkeolog Jerman juga memulai pencarian mereka untuk memperoleh kekayaan dan ketenaran. Heinrich Schliemann salah satunya, memulai pencarian terhadap kota legendaris Troy, yang dideskripsikan oleh Homer (penyair kuno Yunani). Karena menganggap bahwa sajak-sajak Homer hanya sebagai imaginasi murni, para kontemporer mencemooh usaha Schliemann, menganggapnya sebagai sebuah mimpi. Namun cukup mengejutkan, bermula dari penggambaran dalam Iliad karya Homer dan karya-karya penulis Yunani lainnya, Schliemann memulai penggalian. Pada tahun 1871, dia menemukan puing-puing kota kuno Troy.

Mengikuti jejak-jejak perjalanan yang terpisah-pisah tersebut, berikutnya muncul arkeologis yang akan melakukan studi sekaligus membuat klasifikasi penemuan-penemuan tersebut dalam bentuk yang sistematis, sehingga mendorong dilahirkannya metodologi ilmiah dalam bidang arkeologi.

Masa-masa Skeptisisme

Sayangnya, semangat ketenaran dan harta dari banya arkeologis awal ini juga mengarahkan pada klaim tentang tidak adalah penemuan tentang situs-situs dalam alkitab. Beberapa dari klaim tersebut seperti perkiraan tentang ditemukannya tambang milik Raja Salomo dan makam Daud, belakangan terbukti salah. Benih-benih keraguan mulai muncul dalam kaitannya dengan akurasi catatan dalam alkitab.
Abad 20 mewarisi skeptisisme yang bermula pada ratusan tahun sebelumnya. Charles Darwin dan ilmuwan lain yang mendukung teori evolusi, telah menempatkan penjelasan tentang asal usul dan perkembangan makhluk hidup yang terpisah dari Penciptanya. Catatan tersebut mendorong munculnya berbagai pertanyaan tentang kesejarahan dari alkitab.

Kekuatan pemikiran lain juga berkembang kuat di Eropa dipelopori oleh Karl Marx, yang dalam pandangan ekonomi, interpretasi materialistik dari sejarah, tidak memperhitungkan Allah dan mujizatNya. Banyak sarjana mengejek catatan dalam alkitab sebagai mitos. Alkitab menjadi permainan kritik; pertentangan antara mereka yang meyakini dan tidak meyakini inspirasi dan akurasiNya.

Sarjana alkitab dan teologi dari masa tersebut mendeklarasikan bahwa alkitab lebih baru asal usulnya dibandingkan dengan apa yang diklaim; beberapa berpendapat bahwa masyarakat dalam Perjanjian Lama bahkan tidak tahu bagaimana membaca dan menulis. Beberapa sarjana bahkan menyimpulkan bahwa sebagian besar dari Perjanjian Lama tidak lebih dari mitos.

Penulis Norman Geisler dan Paul Feinberg memberikan observasi: “Mungkin contoh terbai dari mereka yang memegang keyakinan “alasan terhadap wahyu” dikenal sebagai liberal atau kritikus tinggi.” Secara kasar, hal ini mengacu pada pergerakan teologikal yang memancar dari pemikiran abad 17 dan 18 di Eropa. Pemikiran tersebut dipengaruhi Spinoza, Kant, dan Hegel, yang menyimpulkan secara manusiawi bahwa sebagian atau seluruh dari alkitab bukanlan wahyu dari Allah. Kritik tingkat tinggi lainnya termasuk dari seseorang seperti Jean Astruc (1684-1766) dan Julius Wellhausen (1844-1918).

“Berlawanan dengan sejarah, pandangan ortodoks bahwa alkitab adalah Perkataan Allah, kaum liberal percaya bahwa alkitab semata-mata mengandung Perkataan Allah. Ketika mereka menerapkan kanonikasi alasan manusiawi atau sarjana modern terhadap alkitab, mereka merasa bahwa beberapa dari isinya bersifat kontradiktif, dan lainnya semata-mata hanya merupakan fabel atau mitos. Beberapa kisah dalam Perjanjian Lama ditolak berdasarkan kritik tersebut karena event tersebut sepertinya bersifat imoral (Introduction to Philosophy, a Christian Perspective, 1980, p. 261).
Menolak inspirasi ketuhanan dari alkitab, arkeologis dari institut biblikal liberal membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh jaman skeptisisme teologi tersebut. Secara sadar atau tidak sadar, mereka menjadi bias terhadap catatan alkitabiah.

Pandangan Skeptis tentang Jatuhnya Tembok Jericho

Sebuah contoh tentnag bias tersebut mengemuka berkaitan dengan jatuhnya tembok Jericho. Menurut catatan alkitab, Jericho dihancurkan oleh bangsa Israel dibawah pimpinan Yosua ketika mereka mulai menaklukkan tanah yang dijanjikan. Akan tetapi penggalian terhadap situs Jericho mengarahkan arkeolog Britania Kathleen Kenyon untuk menolak versi alkitab.

Dalam Biblical Archaeology Review, arkeolog Bryant Wood menjelaskan pandangan anti-alkitab awal: “Bukti-bukti arkeologis memiliki konflik dengan bukti-bukti alkitab bahkan memberikan penyangkalan. Berdasarkan pada kesimpulan Kenyon, Jericho menjadi contoh pertunjukan tentang sulitnya ketika berusaha mengkorelasikan penemuan arkeologi dengan catatan alkitab dari penaklukan Kanaan. Banyak sarjana menuliskan bahwa catatan alkitab hanyalah sebagai cerita rakyat dan retorika religius. Dan disinilah permasalahan yang telah bertahan hingga 25 tahun.”(Bryant Wood, Biblical Archaeology Review, March-April, 1990, p. 49).

Pengkajian Ulang terhadap Bukti

Sebuah re-evaluasi terhadap hasil kerja Kenyon menunjukkan bahwa kesimpulannya yang menentang kronologi alkitab layak dicurigai, sementara catatan alkitab memperoleh dukungan bukti yang kuat. Wood mempelajari bahwa: “Metode penggalian Kenyon dan laporan detail tentang pekerjaannya tidak ditempatkan pada kerangka kerja analitisnya. Ketika bukti pelajari secara kritis, tidak ada dasar untuk anggapannya bahwa Kota IV (tingkat dari kota yang dianggap berhubungan dengan masa Yosua) dihancurkan pada pertengahan abad 16 sebelum masehi.”(ibid., p. 57).

Majalah Time menambahkan sebagai berikut: “Lebih dari tiga dekade, konsensus telah menentang versi alkitab (dari runtuhnya tembok Jericho). Arkeolog Britania terakhir Kathleen Kenyon menyatakan pada tahun 1950an bahwa jika kota tersebut memang dihancurkan, tetapi hal itu terjadi sekitar 1550 SM., sekitar 150 tahun sebelum kemunculan Joshua. Tetapi arkeolog Bryant Wood … mengklaim bahwa Kenyon salah. Berdasarkan re-evaluasi yang dilakukan terhadap penelitian Kenyon, Wood menyatakan bahwa dinding kota mungkin runtuh pada saat yang tepat seperti dinyatakan dalam alkitab … Menurut Wood: ‘Seperti saya lihat adalah kisah dalam alkitab adalah benar’.”(Time, March 5, 1990, p. 43).
Dan seterusnya, perdebatan tentang akurasi alkitab terus terjadi antara arkeolog konservatif dan liberal.

Penemuan Memberikan Verifikasi Catatan Alkitab

Ketika memasuki abad 20an, beberapa arkeolog memperoleh jalan terang bagi catatan alkitab. Awal tahun 1900an, penggali Jerman dibawah pimpinan Robert Koldewey membuat peta tentang ibukota Babilon kuno dan menemukan bahwa hal tersebut berhubungan dengan deskripsi alkitab. Sejarah dan budaya Mesir secara umum tepat sesuai dengan catatan alkitab. Sekop arkeolog telah membuka bukti tentang masyarakat kuno lain yang dicatat dalam naskah alkitab. Salah satunya adalah kerajaan Hittite, yang hanya disebutkan dalam alkitab, yang telah diabaikan oleh banyak kritik sebagai hanya sebatas mitologi. Seperti disebutkan Gleason Archer: "Referensi [dalam alkitab] tentang kerajaan Hittites diperlakukan dengan keraguan dan dicap sebagai fiksi pada bagian akhir penulis Taurat” (A Survey of Old Testament Introduction, 1974, p. 165).

Akan tetapi, penggalian di Syria dan Turki mengungkapkan banyak dokumen dan monumen tentang Hittite. Penemuan ini membuktikan Hittite pernah menjadi kerajaan yang kuat dengan kekaisaran terbentang dari Asia Minor hingga sebagian Israel. Penemuan yang juga penting adalah tentang Gulungan Laut Mati, tertulis dalam naskah yang menggunakan bahasa Ibrani kuno. Gulungan tersebut ditemukan di goa dekat dengan Laut Mati pada tahun 1947. Beberapa diantaranya adalah naskah asli Perjanjian Lama yang ditulis lebih dari 100 tahun sebelum Kristus. Akan tetapi, permasalahan yang diangkat oleh kritik sebelumnya tentang otentifikasi alkitab terlanjur mengguncang iman banyak orang.

Penambahan Dimensi Pemahaman

The International Standard Bible Encyclopedia menjelaskan: "Terdapat beberapa sarjana era sembilanpuluhan yang meyakinkan bahwa Abraham, Ishak, Yakub, dan bahkan Musa sebenarnya hanyalah hasil imaginasi pengarang Israel. Tetapi arkeologi telah menempatkan orang-orang tersebut dalam dunia nyata. Sebagai hasilnya, sarjana seperti John Bright, setelah menuliskan sebanyak tiga puluh halaman tentang subjek tersebut, dapat menuliskan, ‘Gambaran alkitab tentang patriarkhi sangat mengakar dalam sejarah..’ Arkeologi menyuplai alat pemahaman tentang banyak situasi alkitabiah; bidang tersebut memberikan dimensi tentang realitas untuk menggambarkan sesuatu yang di sisi lain sepertinya asing dan entah mengapa terasa tidak nyata. Dengan demikian arkeologi menyediakan sebuah elemen kredibilitas. Sementara jika orang-orang beriman tidak memerlukan bukti, namun mereka akan sangat membutuhkan dasar untuk meyakini bahwa iman mereka beralasan dan tidak hanya sebagai fantasi.
Dengan mensuplai material dari waktu dan tempat alkitabiah, dan dengan menginterpretasikan data tersebut akan memberikan konteks realitas dari kisah dalam alkitab dan dasar alasan untuk iman alkitabiah (1979, Vol. 1, p. 244).
Penemuan arkeologi di Mesir dan Irak telah menjadi konfirmasi yang sangat berharga tentang catatan alkitabiah. Akan tetapi masih banyak bukti yang terpendam di bawah permukaan. Sebagian besar teritori dari kerajaan Israel dan Yehuda dalam alkitab tetap harus di eksplorasi secara arkeologis. Hingga akhir Perang Dunia I, ketika wilayah tersebut berada di bawah kendali Britanialah dimulainya survey dan penggalian yang terus berlanjut.
Setelah deklarasi Balfour dalam tahun 1917, bangsa Yahudi mulai datang di Palestina; Inggris, Amerika, dan bangsa lain bergabung dalam penggalian oleh bangsa Yahudi terhadap tanah kelahiran nenek moyang mereka. Hingga sekarang terdapat 300 penggalian berjalan di Israel, sebuah jumlah yang sangat besar untuk negara berukuran panjang 200 mil dan lebar 60 mil.

Arkeologi Mendorong Orang untuk Beriman

Berlimpahnya bukti arkeologis dalam mendukung alkitab dapat memperkuat iman, dan dalam beberapa hal memberikan kontribusi kelahiran baru bagi pengiman yang sebelumnya tidak ada.

Sebuah contoh bukti fisik terbangunnya iman seseorang adalah dalam hidup seorang berkebangsaan Inggris yaitu William M. Ramsay (1851-1939). Dilahirkan dalam kemewahan, Ramsay dibesarkan sebagai anak yang patuh oleh orang tuanya yang atheis. Dia lulus dari universitas Oxford dengan gelar doktor dalam bidang filsafat dan menjadi profesor di universitas Aberdeen.
Memutuskan untuk merusak akurasi historis dari alkitab, dia mempelajari arkeologi dengan tujuan mencari bukti yang menentang catatan alkitab. Ketika siap dengan peralatan dan pengetahuan ilmiah di bidang tersebut, dia pergi ke Palestina dan fokus pada Kisah Para Rasul, yang dia harapkan sepenuhnya akan ditolak dan hanya dianggap tidak lebih dari mitos.

Setelah bekerja selama hampir seperempat abad, Ramsay terpukul dengan ketepatan dari kitab Kisah Para Rasul. Dalam pencariannya untuk bukti yang menolak alkitab, Ramsay menemukan banyak fakta yang justru memberikan konfirmasi terhadap akurasinya.

Dia harus mengakui bahwa catatan Lukas tentang kejadian dan setting yang dicatat dalam narasinya merupakan kejadian yang tepat hingga ke detail terkecilnya. Jauh dari upaya penyerangan terhadap alkitab, Ramsay justru menuliskan sebuah buku, St. Paul, the Traveller and Roman Citizen, yang memberikan dukungan terhadap alkitab.

Pada akhirnya, William Ramsay mengguncang dunia intelektual dengan menuliskan bahwa dia telah masuk dalam dunia Kristiani. Ironisnya, orang yang berangkat untuk mencari bukti yang menentang alkitab, justru berakhir pada penerimaan terhadap alkitab sebagai Perkataan Allah karena eksplorasi dan penemuannya. Untuk kontribusinya terhadap pengetahuan alkitabiah dengan banyak bukunya, dia juga menerima gelar bangsawan.
Studi arkeologi dapat membantu memperkokoh iman. Hal tersebut memungkinkan kita untuk memperoleh perjalanan waktu mundur yang mempesona untuk mempelajari batu dan artifak yang menjadi saksi bisu namun mengandung bukti kebenaran yang menciptakan kesaksian tentang kebenaran dalam alkitab. Apa lagi yang akan ditemukan? Artikel ke depan akan menjelaskan tentang penemuan yang paralel dan memberikan titik terang bagi catatan alkitab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar